Benarkah Islam Mengajak Umatnya Menjadi Jelata dan Hidup Miskin ?

BENARKAH ISLAM MENGAJAK UMATNYA MENJADI JELATA DAN HIDUP MISKIN ?


FORDIASI.COM | ISLAM - Kekuasaan adalah cela, banyak uang adalah beban. Pada hari kiamat para penguasa akan diinjak, orang kaya akan dikalungkan hartanya. Siapapun yang berkuasa dan kaya bakal dicela. Maka Raja Balkh, Ibrahim bin Adham meninggalkan semua mewah dan riuh istana — taggalkan jabatan sebagai raja dan memilih hidup melarat di gua -gua, uzlah di bukit tandus, menjauh dari urusan dunia, berlapar-lapar dan berjalan kaki dengan pakaian lusuh.


Benarkah menjadi jelata dan melarat adalah hidup yang dimuliakan dalam ajaran Islam ?_Sebut saja khalifah Umar bin Abdul Aziz seorang yang jujur, menanggalkan semua kekayaan dan memilih menjadi miskin bahkan konon tak mampu belikan sehelai baju buat putrinya pada hari raya dan sering pingsan karena lapar. Atau gubernur Amir bin Jumhi, menyimpan dua helai pakaian yang dipakai bergiliran dan kerap pingsan karena sering tidak sarapan.

$ads={1}

Baginda Rasulullah SAW pun hidup sangat sederhana — tinggal di kamar sempit, berpakaian dan makan seadanya— bahkan konon beliau sempat hendak menceraikan semua isterinya karena tuntutan tambahan nafkah.


Sayidah Fatimah Az-Zahra puteri kesayangan Rasulullah SAW pun harus pulang dengan tangan kosong ketika meminta bantuan kepada ayahandanya agar diberi seorang pembantu karena tangannya kerap lecet sebab bekerja keras.


Abdurrahman bin Auf ra. saudagar kaya raya itu pun memimpikan hidup miskin, memilih bangkrut sebab ia diramal bakal masuk surga dengan cara merangkak sebab terlalu berlimpah harta. Pada kesempatan lain Rasulullah SAW bertutur bahwa orang kaya terlambat setengah hari (500 tahun waktu dunia) masuk surga, disalip orang-orang miskin karena audit yang harus dijalani disebabkan hartanya itu, Maka banyak orang Islam menjauhi kekuasaan dan hidup miskin untuk menghindari audit yang sangat.


Lebih jauh kemudian ada tren hijrah: dari kaya menjadi miskin, adalah pilihan untuk mensucikan hati dan pikiran. Pendek kata : bagi umat Islam, dunia adalah tipuan, senda gurau, penjara atau kutukan. Siapapun yang bisa berlepas diri dari urusan dunia, ia yang beruntung. Hanya yang tidak berkuasa dan tidak berharta yang bakal selamat pada hari kiamat dan mendapat ganti hidup mewah di surga.

Baca Juga :

Syarat, Rukun dan Wajib Haji dalam Islam

Maka setiap orang Islam ‘berlomba’ menjadi miskin — sebab miskin adalah pilihan terbaik agar selamat dari azab neraka. Bagi sebagian orang, menganggap bahwa berkuasa dan hidup kaya di dunia adalah ancaman dan penderitaan di akhirat. Apakah karena itu maka umat Islam dalam sejarahnya tak pernah menguasai ekonomi dunia. Jika benar, ini memang problem teologis, yang harus diurai.


Lantas kenapa orang Jepang, China dan sebagian besar bangsa Eropa dan Amerika menyalib maju dan hegemonic menguasai ekonomi dunia:


Teologi Takugawa yang dianut sebagain besar orang Jepang malah sebaliknya — harta adalah simbol prestasi, maka setiap yang berharta akan mendapat balasan yang lebih baik dengan kedudukan dan status sosial tinggi, teologi ‘Takugawa’ disebut sebagai sandaran etik bagi modernisasi Jepang saat ini.


Baca Juga:

- 9 Hal yang diperbolehkan Justru dilarang Ketika Berpuasa


Konfusianisme yang dianut sebagaian besar orang China juga mengajarkan bahwa hidup kaya itu mulia, setiap orang harus berkuasa dan berlimpah harta agar tidak lahir kembali (reinkarnasi) dengan cara hina dina. Prestasi di dunia sebagai sebab reinkarnasi mulia — sebab itu orang China yang menganut Konfusianisme berlomba-lomba menjadi kaya dan berkuasa agar reinkarnasi di kemudian hari makin baik.

$ads={2}

Etika Protestan, yang kemudian menjelma menjadi Puritanisme Calvinis kurang lebih juga sama —- gerakan ini menjadi picu lahirnya kapitalisme di Eropa abad tengah. Bekerja keras, hidup hemat, suka menabung menjadi nilai-nilai kapitalisme yang bermuara pada Protestan Ethic yang pernah diungkap Max Webber.


Hal mana juga menjadi energi positif bagi negara-negara Kresten Eropa melakukan ekspansi ke luar wilayah untuk mendapatkan kekuasaan dan banyak harta.


Tapi bagaimana bila ajaran Islam mengalami reduksi karena salah tafsir — bukankah Islam juga mengajarkan konsep keseimbanhan dunia dan akhirat. Bahkan orang-orang kaya mendapatkan banyak keistimewaan dalam hal ibadah dan pemberian pahala yang tidak di dapat kaum miskin. Jadi bisa saja ini bukan problem teologis tapi lebih pada metodologi dan tafsir.


Tapi sejarah membuktikan bahwa umat Islam tidak pernah menguasai ekonomi dunia semenjak masa khilafah yang empat hingga sekarang — dalam bidang militer dan politik umat Islam pernah berjaya, tapi tidak di bidang ekonomi ?


Kenapa ?


Mungkin karena ‘Ethos Islam’ yang menjadikan kekuasaan dan kekayaan sebagai ‘kutukan’ dan beban di akhirat — konsep ‘dunia fana akhirat abadi’, adanya anggapan bahwa kiamat sudah dekat, tidak boleh menyimpan harta, hiduplah seperti perantau, “nrimo ing pandom, alon alon waton kelakon, mangan ora mangan kumpul, nang ndonya mampir ngombe” membuat umat Islam kehilangan sikap kompetitif dan setengah hati mengais dunia.


Bahkan di masjid-masjid tidak sedikit mubalig yang mencela penguasa dan orang-orang kaya dan banyak harta. Kemudian menyanjung tinggi kemiskinan dan hidup zuhud. Jadilah umat Islam menganggap urusan dunia tidak penting,


Di antara berbagai manhaj besar — benarkah hanya Islam yang melarang kaya, dan miskin adalah pilihan aman menghindar azab ? tesis ini masih perlu pembuktian dan pembenaran, meski sejarah umat Islam telah membenarkan realitas itu, umat Islam memang tak pernah hegemonik dalam urusan ekonomi, meski tangkas dalam permainan pedang — Wallahu taala a’lm.


Ditulis oleh : Nurbani Yusuf


Demikian artikel " Benarkah Islam Mengajak Umatnya Menjadi Jelata dan Hidup Miskin ? "


- Fordiasi, Forum Media Informasi - 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama