Salah Jurusan, Bukan Salah Tujuan

SALAH JURUSAN, BUKAN SALAH TUJUAN


FORDIASI.COM | SAINS - Untuk yang baru lulus SMA, memilih jurusan adalah hal yang paling membingungkan sepanjang hidup, bahkan setelah masuk jurusanpun, kita berkata sejenak didalam hati, “Kenapa sih, saya masuk fakultas ini? Kayaknya, harus pindah jurusan, deh”.


Ada dua suku kata pada ungkapan di atas yang membuat saya membayangkan betapa ngerinya menjadi mahasiswa, yakni kata “pindah” dan “jurusan”. Dua kata yang jika dihubungkan berisi rasa kekecewaan terdalam. Seakan-akan bakal menjadi ending dari kisah hidup mereka, khususnya para maba (mahasiswa baru).

$ads={1}

Saat itu, mereka terjebak dalam dilematis studi yang menggelisahkan. Mau lanjut tapi enggak bergairah. Kalau berhenti bikin malu keluarga. Jika pindah jurusan makin lama masa studinya, plus kapan nikahnya. Sebuah situasi yang logika pun undur diri untuk menampakkan wajah.


Kekecewaan para maba itu muncul bukan tanpa latar. Banyak faktor sih yang membuat para pelajar itu merasa gusar dan bimbang untuk meneruskan pendidikannya. Kayak pilihan ortu yang enggak singkron sama passion mereka, tidak lulus seleksi di jurusan yang digemari, atau memilih jurusan yang mainstream di dunia kerja tanpa ability yang mumpuni.


Berdasarkan penelitian Indonesia Career Center Network (ICCN) tahun 2017, sebanyak 87 persen pelajar universitas di Indonesia memilih jurusan yang tidak sesuai dengan minatnya. Sementara terdapat 71,7 persen pekerja yang memiliki profesi yang tidak relate dengan pendidikannya.


Hasil penelitian tersebut sangatlah wajar bila terjadi pada bakal calon mahasiswa yang hendak mencicipi lingkungan universitas. Sebab, sangat sulit untuk pelajar usia remaja menentukan pilihan yang berkenaan dengan skill atau kemampuan mereka. Jangankan yang muda-muda, orang dewasa pun seringkali tersandung ketika memutuskan profesi yang akan dipilih. Meskipun, kalau bicara soal pengalaman tidak usah ditanya.


Terus mesti gimana kalau sudah kadung salah jurusan? Apa kita mau berhenti kuliah, atau banting setir biar dapat tempat yang lebih produktif?

$ads={2}

Sudut pandang seperti ini yang menurut saya mesti dibenahi. Kita tidak seharusnya melihat suatu persoalan hanya dari sisi benar dan salahnya karena sifatnya itu subjektif. Andaikan mau merenungnya barang sejenak, maka akan muncul perspektif lain yang justru lebih menguntungkan.


Diantaranya adalah memandang salah jurusan sebagai tangga awal untuk sampai ke tujuan akhir. Kita pasti tahu lah kalau setiap orang yang sekolah punya target masing-masing yang mesti diselesaikan. Selain menjalani rutinitas perkuliahan, mereka juga punya kewajiban untuk membuat orang tua mereka tersenyum lebar saat melihat anaknya memakai stelan jas yang pas dan sepatu yang lumayan mengkilat meskipun itu hasil ghoshob. Hal itu sudah lebih dari cukup untuk menumbuhkan semangat supaya belajar lebih giat.


Pertanyaan yang muncul adalah sudah berapa persen puzzle-puzzle kesuksesan yang udah kita susun dan selesaikan. Dua puluh persen kah, tiga puluh persen kah, atau masih zero persen, alias nonsense. Hal ini mesti terus dievaluasi. Bisa seminggu sekali, dua minggu atau setiap bulan. Intinya harus ada sebagai langkah pasti untuk mencapai sebuah tujuan.


Penting diingat adalah tidak perlu untuk membuat plan atau daftar sedetail mungkin karena itu bikin hidup jadi tambah sulit. Buatlah semacam kerangka umum di kepala kita, atau boleh juga dicatat di buku harian sebagai patokan untuk melangkah. Tidak perlu memaksakan diri untuk mengerjakan semuanya tapi lakukan semampunya.


Kedua, anggaplah salah jurusan sebagai bagian dari proses kehidupan yang mesti ada. Sebab, salah jurusan merupakan testing dari semesta untuk melihat seberapa tangguhnya kita menjalaninya tanpa rasa putus asa. Dengan demikian, cukup dijalani saja. Tidak perlu terburu-buru untuk menyudahi game yang segera berakhir ini. Lakukan step by step untuk resolusi yang sudah dibuat. Ketika programnya sudah jalan tapi kayak enggak ada progres jangan katakan itu sebagai kegagalan tapi kesuksesan yang baru saja dimulai.


Ketiga, melihat salah jurusan bukan disebabkan oleh orang lain, baik itu keluarga, sahabat atau guru-guru kita. Sejak awal, tidak ada siapapun yang mesti disalahkan. Justru keberadaan merekalah yang merupakan motivasi terbesar kita buat melangkah maju untuk sebuah kesuksesan. Merekalah yang selama ini mendukung dan mendampingi di saat kita terpuruk dan kecewa atas dunia.


Dengan asumsi itu, sungguh mustahil bagi seorang ayah menjerumuskan anaknya ke jalan yang enggak benar, atau seorang sahabat yang menghasut kita biar salah langkah. Kalaupun ada, itu cuman ayah biologis. Bukan ayah yang saya definisikan. Sebab, saya punya penjelasan sendiri untuk seorang ayah. Sebagaimana juga punya uraian beda untuk seorang sahabat.


Keempat, salah jurusan bukan berarti tidak sukses. Benar jurusan pun bukan menjamin sukses. Artinya, bukan jurusan yang membuat seseorang berhasil akan tetapi tekad dan perjuangan besar lah yang dapat menentukan posisinya di masa mendatang.


Kita bisa berkaca dari Mark Zuckerberg yang kuliah psikologi tapi berakhir sukses jadi CEO-nya Facebook. SI anak singkong, Chairul Tanjung yang kuliah kedokteran gigi namun berujung jadi pengusaha besar sampai mampu membangun Trans TV, Bank Mega yang tergabung dalam CT Corp. Pendiri Microsoft, Bill Gates yang dulunya seorang sarjana Ilmu Hukum.


Kesuksesan mereka bukan tiba-tiba muncul tanpa dibarengin upaya yang masif, atau pahitnya sebuah perjuangan. Pastilah mereka sudah mencicipi setiap langkah-langkah terjal yang sulit ditapaki. Andaikan mereka berhenti sejenak untuk menyerah soal kondisi, maka kesempatan walau sedetik pun lenyap dimakan masa.


Mudah-mudahan kisah perjuangan mereka akan jadi pemantik bagi kita untuk segera bergerak demi masa depan. Sukses tentunya tak cukup ditentukan oleh selembar ijazah. Hanya keuletan dan kerja keras lah yang jadi pertimbangan untuk sampai ke tujuan utama.


Sudahkah kalian berusaha di satu detik kedepan?


Oleh : Dhani Sanon Al Fuad


Demikian artikel " Salah Jurusan, Bukan Salah Tujuan "


Semoga bermanfaat


- Fordiasi, Forum Media Informasi -

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama
close