Segera Lunasi Hutangmu, Karena Umur Tidak Ada Yang Tau

SEGERA LUNASI HUTANGMU, KARENA UMUR TIDAK ADA YANG TAU


FORDIASI.COM | ISLAM - Hai, Knowledgers! Mempunyai utang merupakan hal yang wajar, karena tidak semua orang memiliki kondisi finasial yang stabil dan berkecukupan. Memberi utang juga suatu hal yang baik ketika orang lain butuh solusi dalam kondisi terdesak, tapi apakah kalian tau bagaimana etika berutang yang baik menurut pandangan islam.


Tak pandang bulu, agama menganjurkan kita untuk saling membantu orang lain yang ada dalam kondisi kesusahan baik yang seiman maupun yang tidak. Banyak anjuran dalam ayat Al-Qur'an maupun hadits Rasulullah SAW yang memberitahu tentang keutamaan  memberi hutang karena merupakan bagian dari menolong orang lain. Bahkan, dalam hal menagih utang pun ada etikanya. Lalu bagaimana dengan orang yang diberi utang? Terkadang orang yang berutang lebih galak dari pemberi utang saat ditagih karena jatuh tempo. Berikut ini adalah beberapa etika yang perlu kamu ketahui sebelum berutang dan memberi utang dalam  hukum islam.

$ads={1}

Pertama, pemberi utang tidak boleh mengambil keuntungan dari yang berhutang. Setiap hutang yang bertujuan mengambil keuntungan, maka hukumnya menjadi riba. Hal ini terjadi ketika salah satunya mensyaratkan atau menjanjikan penambahan jumlah yang harus dikembalikan. Namun, boleh-boleh saja orang yang berhutang mengembalikan dengan jumlah lebih setelah pembayar hutangnya dengan alasan berterimakasih dan membalas budi.


Kemudian, ketika ingin berutang, kamu harus mempunyai niat  yang serius untuk bisa membayarnya ketika sudah jatuh tempo.


Hal ini sesuai hadis dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, 


 “Barangsiapa yang mengambil harta-harta manusia (berutang) dengan niatan ingin melunasinya, Allah akan melunaskannya. Dan barangsiapa yang berutang dengan niat ingin merugikannya, Allah akan membinasakannya” (HR. Bukhari: 2387)


Tapi, sayangnya banyak orang yang beranggapan utang bukan hal yang serius dan wajib untuk dikembalikan. Sehingga ketika berutang, mereka tidak memiliki niat untuk mengembalikannya, padahal sekecil apapun nilai yang dipinjam tetap harus dikembalikan.

$ads={2}

Selanjutnya, kamu harus menyegerakan membayar utang ketika sudah jatuh tempo jika persediaan makanan untuk kamu dan keluarga sudah cukup. Sebuah prinsip dari Rasulullah yang menyatakan bahwa sikap menunda utang bagi orang yang mampu membayar, merupakan sebuah sifat zalim. Tidak jarang saat sekarang ini orang tidak merasa bertanggungjawab atas utangnya, lebih mengutamakan nongkrong kesana-kemari daripada membayar kewajibannya dan mengembalikan hak orang lain yang dipinjamkan.


Lalu, Jika terjadi keterlambatan karena kesulitan keuangan, hendaknya orang yang berutang memberitahukan kepada orang yang memberikan pinjaman, karena hal ini termasuk bagian dari sikap tanggungjawab atas utang kita dan menghargai hak yang mengutangkan.


Sebaiknya jangan berdiam diri, menghindar-hindar atau lari dari utang, karena akan memperparah keadaan, dan merubah hutang, yang awalnya sebagai wujud kasih sayang dan kebaikan, berubah menjadi permusuhan.


Sebagian orang terbiasa berutang untuk hal-hal yang tidak perlu, sifat konsumtif ini menyebabkan orang yang berutang tidak mempunyai uang yang bisa diandalkan untuk mengembalikan utang tersebut. 


Dan faktanya tak jarang orang marah disaat utangnya ditagih, ini terjadi karena mereka merasa kesal dan terancam karena selalu dikejar-kejar utang, aneh.


Baca Juga :

- Penjelasan Lengkap Arti bacaan Tasbih, Tahmid, Takbir, Tahlil dan Istighfar


Jadi intinya, agama islam sangat menentang umatnya yang lalai terhadap utangnya. Seseorang yang berutang maka wajib hukumnya mengembalikan hak orang lain dengan membayar utangnya. Jika tidak, dosa atas utangnya tak akan diampuni oleh Allah sekalipun orang yang berutang itu mendapat kemuliaan mati dalam keadaan syahid.


Seperti yang terdapat dalam sebuah hadis dari Abdillah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah SAW bersabda:


يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ


Yang Artinya:


“Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali hutang." (HR. Muslim No. 1886).


Terakhir, ketika sakit menjelang wafat, Rasulullah sempat keluar rumah dan bertanya kepada para sahabatnya untuk menanyakan apakah beliau mempunyai hutang dengan mereka, hal ini beliau lakukan karena tidak ingin bertemu Allah dalam keadaan meninggalkan utang dengan manusia. Hal ini merupakan sikap tanggungjawab yang perlu kita contoh, kita harus menyadari bahwa memberi utang adalah salah satu bentuk kebaikan orang kepada kita, jadi kita juga harus berbuat baik dengan menyegerakan tanggungjawab kita mengembalikan hak yang memberikan utang.


Sumber : Hamid, Admin Grup Facebook Ruang Pengetahuan


Demikian artikel mengenai " Segera Lunasi Hutangmu, Karena Umur Tidak Ada Yang Tau "


Semoga bermanfaat...


- Fordiasi, Forum Media Informasi -

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama