BNPB Menjadi Tuan Rumah Konvensi bencana dengan Anggaran Rp 366 Miliar


FORDIASI.COM | JAKARTA - BNPB berencana melakukan kegiatan internasional terkait bencana dengan anggaran sebesar Rs 366 miliar di Bali tahun depan. BNPB menjelaskan mengapa mengadakan konvensi bencana harus menelan biaya ratusan miliar.


“Ini sebenarnya pertemuan multi-stakeholder global, Pak. Yang paling penting, diadakan setiap tahun, setiap dua tahun, adalah membahas pengurangan bencana yang sebenarnya. Dasar dari kegiatan ini adalah kerangka Sendai 2015, konferensi Sendai 2015. Kemudian konferensi Sendai 2015. GPDRR adalah forum multi-stakeholder yang kepentingannya digagas oleh PBB,” kata Kepala BNPB Letjen Ganip Warsito dalam rapat Komisi VIII yang disiarkan di akun YouTube DPR RI, Kamis (26/8/2021).

$ads={1}

“Kenapa kami ditunjuk? Ini sebenarnya proses sebelum saya diangkat menjadi Kepala BNPB, proses ini sudah tahun 2019, di mana Indonesia dipercayakan untuk menyelenggarakannya. Jadi nilai strategis global GPDRR mencerminkan kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia. kepemimpinan pada isu kebencanaan,” lanjut Ganip.


Acara yang menelan biaya ratusan miliar rupiah itu dinamakan Global Platform for Disaster Risk Reduction atau GPPRR. Acara tersebut dijadwalkan berlangsung di Nusa Dua, Bali, pada 23-30 Mei 2022.


“Menjadi tuan rumah GPDRR ini yang pertama di kawasan Asia Pasifik. Kemudian nilai strategis selanjutnya meniadakan posisi Indonesia sebagai pusat ilmu di bidang kebencanaan. Kemudian yang ketiga mempromosikan self-diplomacy Indonesia di bidang kemanusiaan,” kata Ganip .


Ganip mengatakan BNPB telah melakukan kajian untuk melaksanakan acara tersebut, termasuk nilai strategis nasionalnya. Dan juga mencermati kondisi Indonesia yang masih dilanda pandemi.


“Sudah kami rancang Pak, karena ini sudah menjadi keputusan PBB (PBB) dan sudah disetujui oleh pemerintah kami, akan terus kami jalankan untuk persiapannya, jadi tanggal ini ditetapkan sebagai tanggal acuan agar bisa kami lakukan. persiapan terbaik." dia berkata.


Ganip menjelaskan, event internasional tersebut digelar di Bali dengan serangkaian indikator. Misalnya, vaksinasi di Bali cukup tinggi dan herd immunity telah tercipta di Nusa Dua, Sanur dan Ubud.

$ads={2}

“Ke arah itu, pemerintah telah merencanakan keputusan untuk komite nasional GPDRR, di mana presiden adalah Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, kemudian wakil presiden adalah Kepala BNPB yang akan bertanggung jawab atas latar belakang acara, kemudian bidang pendampingan dan program pengamanan berkoordinasi dengan TNI-Polri nanti,” sebut mereka Ganip.


Jenderal bintang tiga TNI itu berharap pada 2022, saat pelaksanaan, kasus Corona di Bali sudah nol. Perwakilan PBB, kata Ganip, akan melakukan penilaian untuk mempersiapkan acara pada bulan Oktober.


"Target kita Oktober ini target awal, kita bisa meyakinkan PBB karena nanti Oktober ada penilaian PBB, Pak, apakah Indonesia bisa melakukan ini atau tidak," katanya.


Jika kasus Corona di Bali tidak bisa ditekan sebelum acara, Ganip mengatakan ada dua alternatif untuk melanjutkan acara. Alternatif pertama adalah melakukannya secara hybrid atau menunda tanggal pelaksanaannya.


“Yang pertama manfaatnya besar kalau kita bisa mendatangkan jumlah yang kita laporkan tadi, yang kedua kita uji sistem hybrid meeting, jadi ada yang akan hadir beberapa secara online. Yang ketiga adalah alternatif jika PBB menyetujuinya. Itu akan ditunda dalam jangka waktu yang kami diskusikan dan sepakati dengan mereka”, tambahnya.


Menurut Ganip, acara ini akan mengundang 5.000-6.000 peserta dari berbagai negara, selain mengundang Sekjen PBB dan kepala negara atau kepala pemerintahan. Tak sedikit anggota Komisi VIII yang mengkritisi nilai anggaran acara di Bali.


- Fordiasi, Forum Media Informasi -

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama
close