Covid-19: Tokoh Agama yang tidak Percaya Dokter

COVID-19: TOKOH AGAMA YANG TIDAK PERCAYA DOKTER


FORDIASI.COM | OPINI - Virus itu memang ada. Ini yang harus dipahami mereka yang tidak pernah belajar sains dan memahami fenomena alam hanya menurut metode ilmu agama. Dari sifatnya, virus itu ada yang berkarakter RNA dan DNA. Karakter RNA, artinya virus itu bersifat aktif, dan mampu bereplikasi dan membelah diri. Sedangkan yang berkarakter DNA bersifat pasif. Ia tidak mampu melakukan seperti dilakukan virus RNA.


Virus Covid 19 itu adalah virus dengan karakter RNA. Ia tidak mati walaupun penderita Covid meminum obat. Virus ini hanya menjadi pasif jika penderita Covid mengkonsumsi obat. Maka dari itu, tidak ada jaminan bahwa mantan penderita Covid tidak akan terkena lagi setelah sembuh. Beberapa kawan saya, ada yang terkena Covid lebih dari satu kali. Itu buktinya.

$ads={1}

Kondisi yang sama juga akan dialami oleh mereka yang sudah mendapat vaksin. Fungsi dari vaksin bukan untuk membentengi tubuh dari virus Covid. Virus Covid tetap bisa masuk ke dalam tubuh. Hanya saja orang yang sudah divaksin, tidak akan parah jika terinfeksi Covid. Manfaat vaksin adalah untuk meminimalisir dampak dari infeksi Covid. Seorang dokter menjelaskan bahwa vaksin seperti menggunakan helm ketika mengendarai motor. Fungsi helm bukan untuk menghindari kecelakaan. Tapi, fungsi helm adalah untuk meminimalisir cidera jika  terjadi kecelakaan. 

Baca Juga : 

Waktu-waktu, Keutamaan dan Pelaksanaan Sholat Fardhu


Semua informasi di atas, saya dapat dari penjelasan kawan saya, dosen kesehatan lingkungan FKM UI. 


Karena dulu, saya pernah belajar Biologi dan Kimia walaupun hanya sebentar, saya bisa memahami penjelasan kawan saya yang disampaikan dengan mudah. 


Yang saya sayangkan, sampai hari ini masih saja ada tokoh agama yang menganggap remeh Covid. Yang mengherankan, tanpa ada rasa malu mereka menyampaikan teori pengobatan Covid tanpa basis ilmu kesehatan sama sekali. Dasar argumentasinya adalah katanya dan katanya. 


Anehnya, sikap mereka yang meremehkan pandangan ahli medis tentang penyakit, tidak sejalan dengan sikap mereka ketika berbicara tentang ilmu agama. Mereka selalu mengatakan, "serahkan kepada ahlinya" atau "bicara harus menggunakan ilmu. Namun ungkapan itu ternyata tidak berlaku bagi orang-orang yang berbicara di luar ilmu agama. Seakan hanya ilmu agama saja yang penting, yang lain tidak. Kalau memang begitu maunya, kenapa ketika membangun majelis taklim atau gedung pesantren, mereka memanggil ahli bangunan. Kenapa tidak mereka rancang dan bangun sendiri majelis atau pesantren mereka? Kita ingin tahu ada tokoh agama yang membuat sendiri kolom-kolom bangunan, membuat sendiri pondasi, tulangan, dan tiang-tiang yang menegakkan bangunan. 

$ads={2}

Pandemi Covid rupanya menjelaskan bahwa sebagian oknum tokoh agama ternyata punya sumbangan untuk menguatkan fenomena The Death of Expertise (matinya kepakaran).


Oleh: KH. DR. Abdi Kurnia Djohan


Demikian informasi " Covid-19: Tokoh Agama yang tidak Percaya Dokter "


Semoga bermanfaat...


Terima Kasih


- Fordiasi, Forum Media Informasi -

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama