Antara Bekerja dan Bergaul di Tempat Kerja


ANTARA BEKERJA DAN BERGAUL DI TEMPAT KERJA


Oleh: Wisudho Harsanto | Growth Enabler | Career Coach & Mentor | #provokata


"Ah dia itu gede omong. Kerja gak seberapa. Aku gak suka. Tapi karirnya kok moncer, ya! Apa dia suka jilat2?" Emang bossnya es-krim?


"Senang kumpul sesama pekerja keras. Kerja tekun gak banyak omong. Tapi kok karir gitu2 aja. Mentang2 diem kalem, dikira melempem? Kita gak type show-off. Tapi perhatikan kita dong." Low profile tapi maksa.


Jago kerja itu wajib, tapi gak cukup. Apa jago ngomong itu juga wajib? Kalo gak demen ngomong kudu maksa diri?


Sebenarnya ini bukan tentang jago ngomong semata. Aslinya, jago perlihatkan kinerja. Ngomong itu salah satu kanal perlihatkan diri. Istilah pinternya: visibility. Banyak kanal lain.

$ads={1}


Di definisiku, visibility= ability to be visible. Kemampuan agar terlihat. Terlihat itu penting. Diciptakan show-room, ruang pamer. Ruang melihat, mengenali, menghargai, mungkin membeli.


Exhibition, pameran. Kita berbondong datang. Keliling booth mengumpul brosur. Mungkin perusahaanmu rajin ikutan. Seru juga jadi petugas pameran.


Saat memamerkan diri diluar sana, brosurku adalah CV. Ruang pamernya saat diwawancarai. Perlu jago ngomong presentasi diri. Ningkatin value diri. Ternyata kompetensi itu kumiliki. Dan aku tidak alergi. Terbukti, punya ability.


Pulang kembali ke rumah organisasi. Pamer diri jadi alergi. Jadi pantangan dan dihindari. Tetiba pamer jadi diksi berkonotasi negatif dan dijauhi. Ada yang missing disini.


Ini tentang budaya organisasi. Tentang" the way we do things around here". Disekelilingku gak terlihat ada yang pamer2 kinerja dan prestasi. Sepertinya bukan cara anak kebanyakan kampung sini. Tabu, gak elok, gak etis.


Disitu missingnya.


1) Yang kau lihat cara anak kebanyakan. Kebanyakan mereka prestasinya rata2. Kinerja segitu rawan tak terlihat. Untuk stand-out, perlu above average.


2) Masih ingat wawancara di toko sebelah? Show-room nya pasti bukan ruang-publik. Bukan aula atau auditorium. Berarti ruang-privat. Tertutup tak terlihat. Dimana ruang itu di perusahaanmu? Ada ruang nyata, ada ruang maya.


3) Seperti juga mobil pajangan di show-room. Wangi kinclong didampingi SPG berdandan rapi. Siap presentasi selling points dan value propositions. Kali ini produknya diriku. Punya unique selling propositions. SPGnya, diriku juga. Harus charming, rapi dan menarik hati.


4) Seperti juga booth-exhibition. Itu temporer. Beberapa hari saja pamer. Selebihnya kerja keras jaga reputasi. Biar klaim kinerjanya penuh percaya diri.

$ads={2}


Masih ada visibility kelas tinggi. Seperti pesawat siluman. Tak terlihat diradar, tapi mampu menyabot perhatian.


Suatu hari bigboss hadir disatu event internal. Dia nanya temanku, kok saya gak terlihat. Dikasih tau, saya memang tidak ada dievent itu. Boss bilang:" I can smell him in this event. This event is very "Wies"!" What a big recognition. Stealth-visibility itu next step.


Jago presenting diri itu kebutuhan. Bagi yang minat berkarir. Tentu punya unique selling propositions. Tak sekadar jago kerja.


(H/S)


- Fordiasi, Forum Media Informasi -

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama
close