Cara Menghadapi Orang Toxic di Tempat kerja

CARA MENGHADAPI ORANG TOXIC DI TEMPAT KERJA


FORDIASI.COM | INFORMASI - Pernahkah Anda mendengar tentang Toxic People? Toxic People, juga dikenal sebagai orang "beracun", adalah tipe orang yang suka menimbulkan masalah dan merugikan orang lain, baik secara fisik maupun emosional. Ciri-ciri orang Toxic sebagai berikut :


1. Hanya mau senangnya saja

2. Tidak berempati atau bersimpati pada Anda

3. Suka mengontrol dan memanipulasi orang lain

4. Tidak mau mengakui kesalahan atau minta maaf

5. Sering merendahkan atau meremehkan Anda


Mr. Wisudho Harsantodi melalui laman linkedinnya membagikan tulisan mengenai " Cara Menghadapi Orang Toxic di Tempat kerja  ", berikut tulisannya:


"Hadeuh, punya toxic-boss, gak kuat deh. Waktunya resign kali ya..." Mau pindah kantor? Ada jaminan boss baru bukan tukang kompor?


"Ampun, punya toxic-coworkers, draining energi. Waktunya mutasi ..." Mau pindah unit kerja ? Ada jaminan orang2 disana enggak sama aja?


Nih jawaban standar yang memperkuat niat kabur dari problem toxic-persons:


1. Setidaknya aku berusaha, tidak ngeluh doang. Kan sudah #insanikhtiar.


2. Emang sih gada jaminan. Paling2 50:50 kansnya. Enggak tinggi. Daripada stay disini, 0:100. Zero harapan orang itu berubah.

$ads={1}


Sounds strong argument ? Yes! It is a choice. But not the only choice.


Maka, baca lagi judul posting baik2. Jurus ngadepin, menghadapi. Bukan jurus ngebelakangin,... kabur, ... melarikan diri, meninggalkan gelanggang.


Berarti, mau lawan tuh toxic2 persons. Sorry ya, gak prioritas. Sayang energi dibuang2 urusan gak berkelas. Maaf, masa depanku menunggu. Gada waktu ngurusin para pengganggu. Benar, not also that choice.


Jadi ingat Covid-19 dan segala hingar bingar haru biru. Yuk beranalogi. Anggap Covid-19 itu muatan toxin yang menjangkiti seseorang. Dan toxin itu gak cuma nular level droplet, atau aerosol. Sudah airborne. Bisa tertular dimana saja. Mau lari kemana. Mau ngapain coba.


Ternyata semua anjuran awal adalah jurus proteksi diri. Jurus 3M.


Memakai masker : Covid nular lewat droplet yang masuk hidung dan lewat mata. Pasang masker dan face shield. Gak nyaman. Agar tak tertulari. APD untuk toxin apa ya?


Menjaga jarak aman (interaksi F2F): 1 meter. Kok gitu? Kalo jaraknya 10 meter gak bisa interaksi dong.


Mencuci tangan, pakai sabun diair mengalir. Bersihkan tangan (dan pikiran) yang potensi menjalari menulari (toxin)


Segala macam jemur badan tengah hari. Vitamin sepanjang abjad dikonsumsi. Apa gak nyiksa diri?


Lalu vaksinasi. Dengan KIPI zero sampe agak berat, diterima sebagai ikhtiar proteksi. Hingga 70-80% populasi. Tercapai herd immunity. Kekebalan komunitas.


Nah, itu jurus menghadapi. Bukan jurus membelakangi, atau kabur. Pandemi tak ada tempat buat sembunyi.

$ads={2}


Virusnya ada, dampak merusaknya kan sama, bahkan mutan menggila. Yang lemah dan komorbid sudah dilalapnya. Setiap pribadi yang makin kuat dari dalam, adalah solusi yang sebenarnya. Lalu diperluas ke sebanyak orang.


Memang sih, toxic-person itu patutnya diisoter, disuruh isoman. Supaya sembuh. Siapa yang bisa PPKM-4 mereka? Udah, katanya gak ada waktu buat para pengganggu.


Ini bukan soal kuatnya daya serang dari luar. Ini soal kuatnya daya tangkal dari dalam diri sendiri. Ayo kita vaksinasi diri. Vaksin growth mindset, boosternya skills intra-personal, inter-personal, emotional & social intelligence. Ajak teman2.


Kalau sudah perkuat diri. Kalau situasinya gak membaik gimana? Hadeuh, over-thinking berkalau-andai lagi. Kerjakan dulu PRnya. Pertanyaannya diganti : Kalau setelah perkuat diri, situasinya jauh lebih baik gimana? Nanti, usai vaksinasi diri, kita ngobrol lagi.


Oleh: Wisudho Harsanto | Growth Enabler | Career Coach & Mentor | #provokata


(H/S)


- Fordiasi, Forum Media Informasi -

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama
close