Drama Bucin Online: Kenal Lewat Maya, Sakitnya Nyata


DRAMA BUCIN ONLINE: KENAL LEWAT MAYA, SAKITNYA NYATA


FORDIASI.COM | INTERNET - Di zaman yang serba canggih ini, semua bisa dilakukan lewat internet. Mencari kerja, dagang, berkenalan, bahkan mencari uang pun bisa dilakukan lewat internet. 


Tapi ada satu hal yang menarik dan ingin saya bahas. Yap, bucin online. Dimana para pelaku dari perbucinan ini biasanya lebih suka berinteraksi lewat ketikan (textovert), daripada harus berbicara langsung, atau mungkin player game online yang ga sengaja nemu teman mabar di dalam game, lalu lanjut kenalan dan akhirnya jadian. 


Nah, terkadang jaraknya juga ga main-main lho. Ada yang beda kota, provinsi, pulau, bahkan ada juga yang berbeda negara. Saking jauhnya jarak, banyak pelaku dari hubungan ini yang berakhir kandas, namun tidak sedikit juga yang sampai ke pelaminan. 


Tentunya, sebagian orang punya alasan tersendiri mengapa mereka lebih memilih menjalani hubungan seperti itu. Ingin mencari pasangan yang sefrekuensi, tidak cocok dengan orang yang ada di lingkungan sekitarnya, terpaksa karena kelamaan jomblo, atau mungkin hanya sekedar cari pelampiasan. Selain itu, ada beberapa fakta menarik yang harus kamu tahu tentang hubungan ini. Apa saja? Yuk disimak.


1. Pacaran cuma modal kuota


Orang normal kalau pacaran biasanya jalan-jalan ke tempat wisata, kafe, paling banter check-in. Nah kalau pelaku bucin online, ya pacarannya lewat HP. Caranya mereka menjalaninya? Macam-macam. Pap kegiatan, mabar, sleepcall. Ya sama-sama kencan sih, cuma beda caranya aja. Istilahnya "Kencan Virtual". 


2. Rawan selingkuh


Karena kencannya yang cuma gitu-gitu aja, ga ada variasinya, orang pasti bakal cepet bosen dong, nah di saat inilah bakal ada yang namanya perselingkuhan. Ditambah lagi, dengan jauhnya jarak, sulit sekali untuk mengetahui pasangan sedang melakukan apa. Paling mentok ya tukeran akun sosmed.  


3. Rawan ghosting

$ads={1}


Hal paling ditakutin sama pelaku bucin virtual ini adalah ghosting. Ya gimana ga takut, orang kalau mau ghosting lewat virtual ya gampang. Tinggal blokir semua akun sosmednya, selesai. Alasannya bisa karena orangnya terlalu membosankan, ga sejalan, atau parasnya tidak rupawan. 


4. Phone sex


Pelaku bucin virtual yang sudah akut akan melakukan hal ini. Phone sex banyak macamnya, bisa VCS, call sex, atau chat sex. Biasanya kalau ujung-ujungnya udah berbau beginian, bakal dighosting. Juga, jangan kalian pikir kalau pacaran virtual tidak bisa melakukan maksiat ya. 


5. Mau ketemuan harus punya modal


Sebenernya ini juga berlaku untuk semua pasangan, tapi ada pengecualian khusus untuk pelaku bucin virtual. Karena, modal yang dikeluarkan juga tidak sedikit. Semakin jauh jaraknya, semakin banyak pula budget yang harus dikeluarkan. Untuk mengatasi ini, salah satu pasangan (biasanya cowok) harus mau tinggal dan mencari kerja di kota tempat pasangannya tinggal, atau membawa si cewek kembali ke tempat dimana si cowok tinggal. 


6. Bisa berujung pada penolakan orang tua


Bukan tidak mungkin. Pasalnya, orang tua punya kekhawatiran tersendiri jika si anak kenal dengan orang asing lewat sosial media. Karena bisa saja perilaku asli orang tersebut tidak sesuai dengan perilaku di sosial media. Terlebih lagi, banyaknya kasus penculikan dan pemerkosaan yang awalnya saling kenal di sosial media. Untuk mencegah hal ini, orang tua harus tahu dan harus kenal dulu dengan pasangan anaknya, barulah untuk masalah pertemuan bisa dirundingkan. 

$ads={2}


7. Patah hatinya bisa lebih parah


Karena belum pernah bertemu langsung, dan terlalu menaruh ekspetasi yang tinggi, patah hati para korban virtual bisa lebih parah dari yang biasanya. Bisa saja setelah putus, para korban virtual akan off sosmed, ganti akun, atau memblokir akun pasangannya. Tapi biasanya, proses move on para korban virtual cepat, karena belum pernah berkencan/bertemu secara langsung. 


8. Kemungkinan berhasil yang sangat kecil


Selain karena jarak yang cukup jauh, dan banyaknya uang yang harus dikeluarkan jika ingin bertemu, kepercayaan dalam hubungan adalah hal paling vital. Tidak sedikit pasangan yang bertengkar karena kurangnya kepercayaan terhadap satu sama lain, lalu berakhir begitu saja. Ditambah lagi, jika belum mengenal orang tua masing-masing, makin besar kemungkinan hubungan akan berakhir. 


"Sebaik-baiknya virtual, lebih baik jangan."


Oleh: Muhammad Rasyid Habibie, Ruang Pengetahuan


(H/S)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama