Psikolog juga bisa merasakan Emosi Negatif (Sedih, marah, kecewa)

PSIKOLOG JUGA BISA MERASAKAN EMOSI NEGATIF (SEDIH, MARAH, KECEWA)


FORDIASI.COM | INFORMASI - Banyak yang berpikir bahwa psikolog itu "maha menguasai diri sendiri", tapi nyatanya, psikolog juga masih bisa merasakan emosi negatif seperti sedih, marah, kecewa, atau cemas (dan ini sangat manusiawi! Psikolog adalah manusia, bukan dewa).


Demikian juga dengan diri saya. Saya menyadari bahwa kecemasan dan berpikir berlebih (overthinking) adalah masalah utama dalam mental saya. Tapi karena kebetulan saya mendalami psikologi, maka saya tahu apa yang perlu saya lakukan untuk menghadapinya; dan izinkan saya membagikan beberapa cara yang saya lakukan untuk menghadapi kecemasan maupun berpikir berlebih:


1. Jika bisa saya abaikan, akan saya abaikan


Sesuai namanya, overthinking atau berpikir berlebih adalah aktivitas memikirkan suatu hal atau kejadian dengan berlebihan; dan semua yang berlebihan biasanya tidak baik. Kadangkala kita mencemaskan sesuatu yang belum terjadi; terjadinya hanya di dalam pikiran kita.


Saya pernah beberapa kali mencemaskan masa depan. Misalkan ketika ponsel saya mati total dan semua teknisi yang saya datangi sudah menyerah, awalnya saya merasa benar-benar cemas! Saya belum melakukan back up, dan bagaimana dengan data-data penting di dalam ponsel saya? Ada chat-chat penting terkait pekerjaan yang belum saya back up, ada foto-foto saya waktu traveling yang belum saya pindahkan ke laptop, pun ada nomor-nomor kontak teman-teman lama yang saya tidak hapal. Semuanya hilang! Saya berpikir akan terjadi masalah besar gara-gara kejadian ini: pekerjaan saya akan kacau karena nomor kontak rekan kerja dan catatan-catatan pekerjaan yang hilang, saya tidak bisa lagi mengenang tempat-tempat yang pernah saya datangi karena fotonya hilang, atau saya tidak bisa lagi berkomunikasi dengan teman-teman lama karena kontaknya hilang.


Kenyataannya? Setelah saya beli ponsel baru, chat-chat terkait pekerjaan bisa saya peroleh lagi (saya menghubungi rekan-rekan kerja saya dan bertanya apakah ada informasi penting yang pernah mereka sampaikan kepada saya selama 1-2 minggu terakhir, agar bisa disampaikan ulang dan kali ini langsung saya catat), foto-foto traveling saya ternyata bisa saya akses kembali (saya baru sadar foto-foto tersebut tersimpan di external memory, bukan internal), lalu kontak teman-teman lama bisa saya peroleh lagi dengan menghubungi mereka melalui media sosial. Masalah beres!


Ternyata masa depan tidak semengerikan yang saya bayangkan.


Tapi inilah hebatnya pikiran kita. Pikiran kita senantiasa mengantisipasi. Sebenarnya hal ini baik, agar kita bisa mempersiapkan diri dengan hal-hal buruk yang akan terjadi. Pikiran kita baik, tetapi tidak bijaksana! Ketika hal yang tidak kita harapkan terjadi, pikiran akan memunculkan berbagai kemungkinan TERBURUK yang akan terjadi. Saya ulangi, yang pikiran akan munculkan adalah kemungkinan-kemungkinan TERBURUK. Padahal kemungkinan terburuk itu tidak selalu terjadi, bahkan jarang sekali terjadi. Ya, hal buruk pasti terjadi, tetapi bukan yang TERBURUK.


Data saya hilang, itu buruk. Tetapi pikiran memunculkan kemungkinan terburuknya; data itu hilang dan tidak bisa diperoleh kembali. Padahal kemungkinan terburuk itu tidak pasti terjadi, bukan?


Dan betapa sia-sianya ketika kita sudah seharian merasa cemas tentang hal terburuk itu, eh ternyata tidak terjadi. Yang terjadi adalah hal buruk yang masih bisa kita atasi.

$ads={1}


Maka dari itu, ketika hal yang tidak diharapkan terjadi dan pikiran saya mulai menggentayangi saya dengan berbagai kemungkinan terburuknya, saya coba abaikan. Ya, hal buruk pasti terjadi, namanya juga hidup; tapi belum tentu hal terburuknya.


Tidak perlu terlalu reaktif. Sadari bahwa hal buruk memang terjadi, abaikan pikiran tentang hal terburuknya, dan lakukan apa yang memang semestinya dilakukan.


(NB: gara-gara kejadian ini, saya dapat pelajaran baru: rajin-rajin back up data di ponsel!)


(NB lagi: pembelajaran pada poin pertama ini saya pelajari dari konsep filasafat Tao yang disebut "Wu Wei", kapan-kapan saya jelaskan)


2. Jika saya masih sulit mengabaikannya, saya akan mengonfrontasinya.


Kadangkala kejadian buruk itu begitu signifikan dalam hidup kita sehingga mustahil untuk kita abaikan. Jika memang hal itu sangat penting sehingga sulit untuk diabaikan, maka jangan diabaikan.


Kecemasan bisa jadi hadir untuk memberikan suatu sinyal: memberitahu kita bahwa urusan ini begitu penting sehingga harus kita curahkan pikiran dan perasaan. Dan mari kita renungkan sejenak, kita biasanya mencemaskan hal-hal yang kita anggap penting bagi kita. Kita tidak akan mencemaskan uang Rp2000 yang kita lupa letakkan di mana, tetapi kita akan cemas setengah mati ketika uang Rp200.000.000 yang kita lupa pernah simpan di mana.


Jika mengabaikannya adalah tidak mungkin, maka saya akan mengonfrontasinya.


Kembali ke kemungkinan terburuk. Berapa persen kemungkinan terburuk itu terjadi? Misalkan kita kehilangan pekerjaan - itu pasti membuat kita merasa cemas karena dampaknya sangat signifikan ke dalam hidup kita. Mencemaskan hal tersebut sebenarnya merupakan sinyal dari pikiran kita agar kita tergerak untuk mencari pekerjaan baru atau mencari penghasilan baru, sehingga sangat tidak bijak jika kita mengabaikannya.


Namun kita perlu mengonfrontasinya. Apa kemungkinan terburuk yang terus dimunculkan oleh pikiran Anda?


Misal: "Saya akan mati kelaparan karena tidak punya pekerjaan!"


Berapa besar peluang hal itu terjadi? Apakah dengan di-PHK, lantas Anda pasti mati kelaparan? Tentu tidak. Anda bisa mencari pekerjaan kembali.


Tapi pikiran kita kembali merongrong: "Zaman sekarang mencari pekerjaan itu susah!"


Apakah benar demikian? Baiklah, memang banyak yang mengatakan hal tersebut; tetapi sudahkah Anda mencoba mencari pekerjaan? Atau Anda hanya duduk pasrah memikirkannya saja?


Tetapi, baiklah, mari kita anggap kemungkinan yang sangat buruk itu terjadi, Anda sudah mencoba mencari pekerjaan ke mana-mana dan tidak mendapatkannya.


Apakah lantas Anda akan mati kelaparan, seperti pikiran berlebihan Anda yang pertama?

$ads={2}


Tentu tidak, Anda bisa berwirausaha.


"Tapi saya tidak punya modal!"


Ada dropship, atau Anda bisa membantu menjualkan dagangan teman dan mendapatkan komisi, atau menjual jasa / kemampuan Anda.


Kemungkinan Anda mati kelaparan sebenarnya kecil sekali. Anda hanya akan mati kelaparan jika terus-menerus memikirkan kejadian buruk ini dan tidak melakukan apa-apa (ironis bukan, semakin kita memikirkannya, justru malah semakin besar kemungkinannya).


Maka dari itu, konfrontasi pikiran berlebihan Anda. Seringkali kita hanya terlalu banyak memikirkannya dan tidak melakukan apa-apa untuk mendapatkan solusinya!


3. Kontrol apa yang masuk ke dalam mulut Anda.


Selain menjaga pikiran, kita juga harus menjaga mulut. Maksudnya, menjaga apa yang kita konsumsi.


Saya sangat curiga bahwa kecemasan saya berkaitan erat dengan kafein yang saya konsumsi - sebelumnya saya bisa meminum 4 gelas besar kopi hitam kental dalam sehari. Memang membuat saya segar dan tidak mudah mengantuk, tetapi efek kecemasannya juga luar biasa.


Belakangan setelah menyadari kecemasan saya semakin parah, saya bertekad untuk mengurangi konsumsi kopi. Satu hari satu gelas, atau dua gelas jika sedang banyak pekerjaan sehingga butuh "energi ekstra". Tapi saya kontrol agar satu hari satu gelas saja.


Apa efeknya?


Dalam beberapa minggu, saya menyadari saya lebih mampu mengendalikan pikiran berlebihan saya. Entah benar karena mengurangi konsumsi kafein atau bukan, tetapi berbagai riset memang menunjukkan bahwa kafein berkontribusi terhadap kecemasan sehingga saya meyakininya. Lagipula, hasil riset ilmiah jauh lebih valid daripada testimoni saya (di mana dalam testimoni, terdapat berbagai variabel yang tidak kita pertimbangkan).


Bisa jadi kecemasan yang mengganggu Anda selama ini juga didorong oleh apa yang Anda konsumsi. Setelah saya telusuri di mesin pencarian daring, ternyata ada banyak makanan / zat yang bisa memperparah kecemasan kita selain kafein, yaitu gula, makanan yang digoreng, makanan olahan, alkohol, sampai soda.


Bukan berarti kita harus 100% menjauhinya - yang sangat sulit dilakukan pada zaman ini - tetapi kita perlu mengendalikan asupan yang masuk.


Dan demikianlah sedikit tips dari saya tentang cara mengatasi kecemasan. Mungkin bisa berguna bagi Anda.


Salam,


Garvin


(Psikolog juga manusia)


(H/S)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama