Recruiter Harus hati-hati berbicara pada calon Kandidat


RECRUITER HARUS HATI-HATI BERBICARA PADA CALON KANDIDAT


FORDIASI.COM | DUNIA KERJA - Saya berbicara dengan sangat hati-hati pada calon kandidat saya. Saya sebut calon karena beliau belum tentu mau diproses di perusahaan klien kami. Sebenarnya saya menghubungi beliau untuk check reference mengenai salah satu kandidat yang sedang kami proses, tak dinyana pembicaraan berkembang mengenai kondisi beliau di perusahaannya yang sekarang. Dan beliau membuka diri untuk Opportunity yang baru.


Sebut saja namanya Bu Karen, seorang senior manager di perusahaan korporasi terkemuka. Saya mengenal beliau bukan cuma karena perusahaannya sempat bekerjasama dengan perusahaan saya sebelumnya, tapi juga karena beberapa teman saya, berteman baik dengan beliau. Kami sempat beberapa kali makan bareng, baik di Jakarta, maupun ketika kebetulan berada di lokasi yang sama, pada waktu dinas luar kota.


Dengan hati-hati saya menjelaskan kondisi di perusahaan klien saya: "It's tough, beberapa orang yang gw kenal disana, menyampaikan banyak keluhan, mulai dari atasan yang kasar, sampai owner yang sulit untuk menerima pembaharuan. Tapi gw juga kenal baik sama HR Managernya. Gw lihat dia berjuang keras untuk adanya perubahan, dan owner sudah mulai menunjukkan lampu hijau untuk perubahan itu, namun jelas perubahan itu gak bisa digerakkan oleh HR Manager sendirian. Dia butuh orang, dia butuh orang-orang seperti ibu untuk melakukan perubahan di sana. Dan kondisi saat ini, dapat kita gunakan untuk push perubahan terjadi di organisasi itu. Ride the wave, manfaatkan momentumnya."

$ads={1}


"Oke Mil, dari sisi pekerjaannya gw suka" Komentarnya, mengacu pada detail job responsibility yang saya sampaikan sebelumnya.


"Soal perusahaannya, gw pikirin dulu. Banyak owner atau atasan berpikir "Kok susah banget ya nyari orang", padahal attitude mereka sendiri yang menjadikan keadaan itu." Sambungnya.


Saya mengangguk "setuju bu"


"Gw doain dulu ya" izinnya.


Saya mengangguk lagi, meskipun ia tidak melihatnya dari ujung telepon sana


Sambil tersenyum saya berkata : "Pekerjaan ini mungkin bukan jawaban dari doa ibu. Tapi Bu Karen bisa jadi adalah jawaban doa bagi seseorang yang ada di perusahaan tersebut."


Hening sesaat sebelum kami saling mengucapkan salam perpisahan kami.


Sesaat sesudah hubungan telepon terputus, saya merenungkan peecakapan kami.

$ads={2}


Kata-kata tentang doa yang saya sampaikan ke Bu Karen, adalah kata-kata yang sungguh-sungguh. Pekerjaan yang ada di depan mata kita sekarang, mungkin bukanlah jawaban doa yang selama ini kita harapkan. Namun Tuhan bisa jadi sedang menjadikan kita jawaban doa untuk doa-doa orang lain.


Anda percaya?


Have a Great Day Great People


Oleh: MILKA SANTOSO | Recruitment Consultant


(H/S)


- Fordiasi, Forum Media Informasi -

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama