Wisudho Harsanto: Remah Rengginang di Organisasi


WISUDHO HARSANTO: REMAH RENGGINANG DI ORGANISASI


"Saya ini cuma remah rengginang di organisasi. Bukan orang penting. Siapalah saya!" Pengucapnya pejabat tinggi.


Di negeri timur berbudaya high-context, ucapan itu bersayap. Karena punya sayap, maknanya terbang kemana2. Boleh jadi maksudnya berendah-hati.


Mungkin saja ada narasi lanjutan tak terucap "Remah rengginang ini bisa bikin karirmu berhenti!" Ups, maknanya jadi bertinggi-hati. Pongah, bikin ngeri.


Sebegitupun, narasi itu menginspirasi. Ditiru banyak orang, mungkin juga kamu.


"Saya ini cuma remah rengginang di organisasi. Bukan orang penting. Siapalah saya!" Penuturnya pejabat nanggung. Dia dikirim bertemuku oleh atasannya yang pusing dan bingung.


Kuperiksa catatan kinerja. Pengidap mediocrity. Terancam korban meritokrasi. Setoran sekedarnya. Keluhan kolega jangan ditanya.


Makna ucapannya jadi low-context. Tak ada sayap. Emang dia bukan orang penting jadinya. Kutipan metafora remah rengginangnya, ada yang missing.


Kalau dia maksudkan berendah hati, dia keliru. Karena bisa terjerembab ke rendah diri, jadi pilu. Kekeliruan konsep diri. Ngeri.


Kubuatkan secangkir kopi. Ditemani rengginang tanpa remah. Kita harus bicara.

$ads={1}


"Bro, organisasi itu isinya orang penting semua. Kalau ada yang tidak penting, berarti tidak diperlukan. Masih ingat 5S, pondasi house keeping management?" tanyaku.


"Iya, S1 adalah Seiri, atau Sisih. Bahasa operasionalnya : Sisihkan yang tidak perlu.!" Kutukas niatnya cerita S2 sampai S5.


"Nah, kalau ente merasa gak penting, gak diperlukan diorganisasi, berarti siap2 kena Sisih ya. Tau dong step2 lanjutan dan konsekuensinya!" Ia tersentak, tertunduk dan merenung.


Lalu kutanya catatan kinerjanya. Dia mengakui semuanya. Awal yang baik. Lalu bersepakat untuk beri dia kesempatan membangun argumen bahwa diri dan perannya penting, diperlukan dan bermakna.


Bila argumennya tak ketemu, kita janjian merancang resign tanpa drama. Agar bibit sebaik dia, bisa cari lahan baru yang mendukungnya untuk growing. Mismatch, unfit, hal biasa.


Seusai obrolan remah rengginang, berpapasan dengan pak Wayan dengan trolinya. Ia seorang garbage-collector. Yup, pengumpul sampah dari semua unit pelayanan di Rumah Sakit tempat kerjaku. Senyum sapa salamnya tersuguh. Tak kulihat dia satu dua hari ini.


"Kemarin saya cuti. Tetap saja kepikiran sama kerjaan. Petugas terbatas. Sampah di unit2 harus diurus dengan baik. Supaya yang melayani aman dan nyaman. Saya harus pintar2 ngatur cuti" Oh, adem dengernya.


Pak Wayan memiliki argumen. Tentang impact dari kontribusinya. Yang bikin hidupnya bermakna. Diri dan perannya penting bagi orang yang dilayani. Bagi organisasi. Bagi diri sendiri.

$ads={2}


Tak ada urusan skala rengginang seremah, atau sekontainer. Besar kecil tak ada hubungan dengan perlu tak perlu. Mau besar mau kecil, kalau gak perlu ya gak usah. Sisihkan dari prioritas.


Hati2 mengutip dan memaknai metafora atau peribahasa, awas ketuker. Dampaknya bisa gak bener. Blunder. Ada cerita?


Oleh: Wisudho Harsanto | Growth Enabler | Career Coach & Mentor | #provokata


(H/S)


- Fordiasi, Forum Media Informasi -

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama
close