Work Life Balance di Dunia Kerja


WORK LIFE BALANCE DI DUNIA KERJA


FORDIASI.COM | DUNIA KERJA - Sebenarnya saya sudah lama tidak membahas hal itu. Seingat saya, terakhir saya mendiskusikannya adalah beberapa belas tahun lalu, ketika kami banyak menginterview kandidat-kandidat dari Big 4 Consulting Firm untuk Posisi Senior Accounting Manager di perusahaan kami.


"Bekerja di Big 4 gajinya emang gede mil, tapi gak ada Work-Life Balance nya" Ujar atasan saya saat itu.


"Lihat aja tuh si Edison sama si Kurniawan, sebelum masuk sini mereka menganggap laptop mereka itu istri mereka" Lanjutnya, sambil menyebut nama-nama personel Internal Audtor kami.


Saya tertawa. Saya akui "Work-Life Balance" adalah jawaban yang paling sering saya dengar sebagai Push Factor, ketika saya menanyakan " Kenapa ingin keluar dari perusahaan Anda saat ini?" kepada kandidat-kandidat Sr. Accounting Manager kami saat itu.

$ads={1}

Namun waktu sudah lama berlalu, saya lihat konsep Work-Life Balance juga sudah banyak berubah.


Work and Life sudah tidak dipandang lagi sebagai suatu dikotomi yang terpisah, melainkan sebagai suatu kesatuan, di mana pekerjaan adalah bagian dari kehidupan yang harus kita jalani dan nikmati.


Banyak perusahaan yang juga sudah menyadari banyaknya jawaban "Work-Life Balance" yang muncul di Form Exit Interview mereka. Sehingga mereka berusaha mengubah suasana kerja, menjadi suasana yang less-stressful dan dapat membantu memberikan 'keseimbangan'. Mulai dari perubahan layout lokasi kerja, penyediaan fasilitas kebugaran, perubahan sistem waktu kerja menjadi flexy time dan lain sebagainya.


"Tapi mbak, bukannya kita malah jadi terseret masuk semakin dalam ya ke dalam pekerjaan kita? karena waktu kerja kita, tanpa kita sadari menjadi semakin lama, apalagi buat kita yang WFH. Jadi gak tahu kapan jam mulai dan jam selesainya."


Saya tersenyum : "Siapa bilang gak sadar? tuh sadar!" tukas saya.


Sebenarnya Tuhan yang Maha Baik itu sudah memberikan kita Body Alert, Mind Alert, dan Alert-Alert lainnya untuk mengingatkan kita ketika kita sudah mulai 'tersesat' di dalam pekerjaan kita. Tugas kita adalah mematuhinya.


Yang seringkali membuat masalahadalah kita sadar, tapi mengabaikannya, merasa nanggung, merasa dikit lagi selesai, tapi ternyata toh butuh berjam-jam juga.

$ads={2}


Atau masalah lainnya, kita tidak asertif, berani berkata "Baik Pak, Saya akan kerjakan besok" kepada atasan kita.

Resiko dimarahin tentu ada, tapi kadang itu adalah resiko yang harus kita ambil untuk memastikan kesehatan kita, kesehatan hubungan kita dengan keluarga kita, dan bahkan kesehatan hubungan kita dengan Pencipta kita.


Kitalah yang harus berani menentukan: Kita yang dikuasai oleh pekerjaan kita, atau kita yang menguasai pekerjaan kita.


Kitalah yang harus berani memutuskan: apa yang akan menjadi prioritas kita.


Pekerjaan itu penting, namun pekerjaan itu hanyalah bagian dari kehidupan kita yang sangat penting.


Sudahkah kita menyadari hal itu?


Oleh: MILKA SANTOSO | Recruitment Consultant


(H/S)


- Fordiasi, Forum Media Informasi -

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama
close