Cerpen: Mertuaku Kena Stroke


CERPEN: MERTUAKU KENA STROKE


"Berdasarkan Kisah Nyata"


Aku Hamidah. Rasanya sudah tidak tahan lagi tinggal seatap bersama ibu mertuaku yang masya Allah, dia itu terlalu ikut campur pada urusan rumah tanggaku dengan Mas Royan.


Ah, andai saja Mas Royan tidak ganteng, aku mungkin sudah minta antar ke pengadilan agama. Tetapi, karena rasa cintaku yang teramat besar pada Mas Royan, aku betah-betahin dulu saja.


"Kalau nyalakan kompor gas, apinya kecilkan ya, Nduk. Biar nggak cepet habis gasnya," perintah ibu mertuaku. Padahal, yang beli isi gas ini yah pakek uangku.  Uang dari hasil Mas Royan bekerja sebagai satpam BCA. Entahlah, Ibu selalu saja riweh bahkan pada urusan sekecil itu.

$ads={1}


Contoh lagi, kapan hari itu aku menyalakan kran air bak mandi. Maksudku biar airnya penuh, dan Ibu kalau mandi biar enak airnya sudah penuh. Eh, ternyata, aku salah lagi di pikiran Ibu. "Nduk, ngisi bak air jangan penuh-penuh. Bojomu kalau nguras ben nggak susah!"


Dua kasus di atas adalah contoh kecil. Aku nggak mungkin nyebutin satu-satu ya, Bund, bisa-bisa rambutku jadi memutih semua entar.


Pada akhirnya saat ini aku lumayan lega, karena rumahnya Mas Royan ini, atas keinginanku, akhirnya dibelah menjadi dua dengan bagian tengah dibangun dinding pemisah.


Jadi, bagian ruang tamu, satu kamar, dan ruang tengah kami renove jadi dapur dan tambahan kamar mandi baru. Itu semua buat kami berdua. Kemudian, Ibu mertuaku menempati dapur dengan ditambahi satu ruang dari dinding triplek untuk kamar, plus kamar mandi yang sudah ada.


Namun ternyata, solusi tersebut masih saja memunculkan problematika. Para tetangga dan ibu-ibu pengantar anak TK pada ngeghibahin aku. Mereka menuduh aku sebagai menantu yang tak tahu untung, dan tak sudi kepada mertuanya. Aku dikatain cuma numpang tetapi ngelamak sama mertua.


Juga, adik-adik ipar (saudara kandung Mas Royan) suatu hari melabrakku, "Kamu kebangetan, yah, Ibu itu jalannya sudah sempoyongan. Mbok yah beras tolong disiapin di meja. Kok yah tega sampean membiarkan Ibu beli beras sendiri ke tokonya Mbak Sar?!"


Entahlah, aku jadi serba salah. Dan, beberapa bulan pun berlalu, kondisi fisik Ibu mertuaku makin lama makin menurun tajam. Dokter syaraf terakhir bilang kalau ibunya Mas Royan itu terkena stroke dan kolestrol yang sangat tinggi.

$ads={2}


Singkat cerita, Ibu mertuaku telah tutup usia (barusan selamatan 100 harinya). Dan, kini rumah Mas Royan yang telah dibelah jadi dua itu disatukan kembali. Aku pun kembali mengisi hari-hari penuh bahagia bersama suami tercintaku, Mas Royan. Aku pun sebagai istri merasa cukup bebas melayani Mas Royan setelah kami tinggal cuma berdua di rumah.


Tetapi, angin-angin panas kembali berembus kencang seperti abu vulkanik dari gunung Merapi. Satu kalimat pernah sampai di telingaku. Kalimat panas itu ditiup dari mulutnya Wati (adiknya Mas Royan), dia bilang, "Dulu nggak sudi sama Ibu, eh setelah Ibu nggak ada, dicaplok semua harta warisan Ibu. Hem, ancen kedunyan tenan!"


Oleh: Ikhwanus Sobirin


(H/S)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama
close