Mencuri Ide Saat Interview, Etiskah?


MENCURI IDE SAAT INTERVIEW, ETISKAH?


FORDIASI.COM | DUNIA KERJA - Ketika proses interview, biasanya user akan mewawancara kandidat yang telah lolos psikotes tertulis. Ia akan bertanya banyak hal salah satunya mengenai ide dan plan ketika diterima di Perusahaan.


Namun ada pengalaman kurang menyenangkan yang dialami oleh Mega Christy Andini Lelemboto. Ia membagikan kisahnya di platform Linkedin ketika di interview disalah satu Hotel bintang 4 di Yogyakarta. Ketika ia ditanya perihal Ide yang dimilikinya si user berdecak kagum. Naas.. bukannya ia diterima bekerja di tempat itu melainkan ide yang dimilikinya dicuri dan dipakai.


Bagaimana kisahnya? simak selengkapnya di bawah ini:


"Dibuka Lowongan Sales Executive di (sebut saja) Hotel A" Salah satu hotel bintang 4 di Yogyakarta.


Ini lowongan kerja yang saya baca di salah satu loker sosial media pada pertengahan tahun 2020. Saya ingat sekali kejadian ini terjadi pada awal-awal pandemi masuk ke Indonesia. Saat itu industri Pariwisata lagi turun-turunnya, salah satunya hotel.

$ads={1}


Melihat lowongan ini,krn butuh, tidak pikir panjang saya edit CV, ketik lamaran kerja dan sent!


Seperti biasa, ketika saya melamar kerja adalah wajib buat saya untuk mempelajari perusahaannya dari background, karakteristik serta nilai-nilai yang dibawa oleh perusahaannya. Saya juga membaca literatur yang relevan dan mapping point-point penting.


Beberapa hari berselang saya ditlp oleh HRD nya memberitahu bahwa saya lulus administrasi. Singkat cerita saya lolos sampai tahap interview GM. Saat itu ada 2 kandidat, saya sama satu mas yang saya lupa namanya. Saya kebagian wawancara kedua, menunggu hanya sekitar 15menit tiba giliran saya.


Disini ceritanya! Saya perkenalan sebagai seorang FG, secara adm seharusnya sudah lolos. Namun, beliau meragukan saya krn belum punya data base plgn hotel. Sebagai gantinya saya akan ditempatkan di div marketing, sebab yang dia keluhkan, tim marketing hotelnya terlalu 'senior', idenya usang, butuh refreshment dari milenial.


Hotel ini jenis resort, sebagian besar revenue diperoleh dari pejabat pemerintahan yang datang bergerombolan. Saat pandemi harus mereka memutar otak untuk survive.


GM nya meminta saran dan ide dari saya, selama 1 jam percakapan dia menulis semua point-point yang sudah saya paparkan. Kurang lebih seperti ini:


Program Jangka Pendek


- Pemanfaatan lingkungan hotel untuk kegiatan olahraga. dengan bundling promo makan + olah raga + diskon kamar (Saat itu blm lockdown)


- Paket sarapan pagi untuk Gowes (Lagi trend saat itu)


- Undang influencer Hotel


- dll yang saya bahkan sudah lupa

$ads={2}


Program jangka panjang


- Branding di sosial media, sebab yang saya pantau sosial media mereka digunakan untuk jualan. Itu konsep yang salah, Sosmed adalah soft selling gunakan untuk branding/katalog hotel. Ganti konsep yang lebih ramah dan interaktif.


- Buat jadwal rutin live cooking dan bagi give away voucher makan


- Jangkau milenial dan keluarga jika corporate sedang mati


- Dll


Setelah saya paparkan ide-ide saya, dia tentunya tertarik. Semua ide saya dicatat (saya seperti mendikte anak sekolah). Harapan saya diterima dong!


1,2,3 hari berselang belum ada panggilan lagi. Saya mengamati sosial medianya sangat banyak perubahan, sesuai dengan ide-ide yang saya paparkan. Mulai dari perbaikan sosmed, live cooking, gowes, kegiatan olahraga dan semua ide saya dipakai tanpa ijin. Dan penantian saya berujung kekecewaan, tidak ada panggilan untuk saya sampai saat ini.


Dear bapak GM, semoga ide-ide saya bermanfaat


Rekan LinkedIn pernah mengalami?


Penulis: Mega Christy Andini Lelemboto

Editor: Hendra, S

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama
close