Dalam Dunia Kerja Seorang bawahan berhak Menyeleksi Atasannya

DALAM DUNIA KERJA SEORANG BAWAHAN BERHAK MENYELEKSI ATASANNYA


FORDIASI.COM | DUNIA KERJA - Setiap pekerja pasti memiliki atasan. Biasanya mereka mendambakan sosok atasan yang memiliki leadership yang baik. Kebanyakan dari mereka yang resign dari tempat kerjanya sebab sikap atasan yang buruk kepadanya. Faktor atasan menjadi alasan kuat bagi para pekerja untuk dapat "survive" dan "berkembang dalam karirnya". Oleh sebab itu, sosok atasan yang memiliki leadership yang baik sangat berpengaruh pada kinerja timnya.


Dalam Dunia Kerja, apakah seorang bawahan boleh memilih atau menyeleksi Atasannya?


Mr. Wisudho Harsanto melalui laman linkedinnya membagikan tulisan menarik untuk pertanyaan diatas, yuk disimak dibawah ini:

$ads={1}

Saat masih Fresh Graduate dan first-job, yang penting bisa diterima kerja dulu. Dianjurkan selektif memilih perusahaan. Terkadang dapet yang kaleng-kaleng. Lumayan, daripada yang rombeng. Sembari tetap istiqamah bekerja, mulai shoping sini sana. Boleh aja.


Saya beruntung. Pake banget. Perusahaan pertama saya jos. Teman kerja dan atasan-atasan gandos. Punya atasan yang bersedia jadi guru, coach, mentor, leader itu asli anugerah. Mewah ! Kerja betah. Serasa sekolah.


Sejak saat itu kalo pindah kerja, saya harus seleksi calon bos saya. Saya harus pastikan dia itu leadershipnya strong, seorang mentor atau coach untuk solusi rasa haus self development saya. Melalui inisiatif inovatif. Seru-seruan yang menghasilkan.


Tentu orang-orang pada tertawa. Dimana-mana kalok ngelamar, kita yang kandidat ini yang diseleksi. Sadar diri. Mikir kok terbalik-balik. Siapa yang butuh siapa?


Anda benar bro! Menempatkan kandidat pelamar di posisi inferior. Lebih rendah timbang perusahaan. Karena emang lagi kepepet butuh kerja. Atau lagi gak betah kuadrat di tempat sekarang, isinya tiap hari perang. Perang terbuka, perang dingin, perang batin. Kandidat jadi obyek seleksi, karena modusmu melarikan diri.


Anda juga benar bro! Jika menempatkan kandidat pelamar di posisi setara dengan recruiter. Mereka melakukan seleksi, kandidat juga. Masing-masing pihak doing due diligent. It is fair. Kan sama-sama butuh.


Perusahaan milih calon karyawan. Kandidat milih calon perusahaan saja ? Stop! Not good enough. Why ?


Bukankah kita akrab dengan kalimat bijak orang resign : People don't leave the company. They leave their (bad) boss. Karyawan baik pergi karena atasan yang buruk. Ya aneh aja, kalo mau cari tempat baru soal atasan tidak masuk key-factor.


Tapi, faktor atasan ini jadi subyektif. Karena bisa jadi tiap orang punya profile atasan idola yang berbeda-beda.


Karena itu, saat menginterview saya pasti masuk topik itu. Saya akan diskusikan kriteria atasan yang dicari, dan atasan yang dihindari. Saya juga lakukan asesmen bareng kandidat terhadap perilaku atasan dia saat ini. Anonim saja.


Sebagai short-listed candidate saya pasti minta waktu ketemu langsung dengan calon atasan saya, one on one. Enggak cukup dia cuma diceritakan. Saya punya daftar pertanyaan baginya. Sebagian diantaranya studi kasus nyata. Bagaimana ia menyikapi, berdampak terhadap ketertarikan saya bergabung.


Bahkan, jika ada atasan ganda. Atasan fungsional dan atasan hirarkial.


Segitunya? Ya, segitunya. Karena most of the resignation caused by the boss. Maka penting untuk properly select the new boss.

$ads={2}

 

Gampang ? Gak janji. Karena bisa jadi kombinasi-kombinasi pilihannya dilematis. Kompensasi bagus dan jarak tempat kerja yang sangat dekat bisa menomor sekiankan faktor atasan. Tough decision is great.


Sebenarnya 3 atribut atasan yang kamu cari apa saja sih ? Juga 3 atribut yang kalian hindari dari seorang atasan. Biar punya kriteria menyeleksi calon atasanmu.


Oleh: Wisudho Harsanto | Growth Enabler | Career Coach & Mentor


(H/S)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama