Media Sosial Menjadi Aspek Penilaian HR Merekrut Kandidat


MEDIA SOSIAL MENJADI ASPEK PENILAIAN HR MEREKRUT KANDIDAT


FORDIASI.COM | DUNIA KERJA - Dalam menseleksi kandidat, recruiter memiliki beberapa aspek penilian untuk menentukan apakah jobseeker tersebut layak atau tidak mendapatkan panggilan kerja. Screening CV merupakan tahap awal dalam menseleksi calon karyawan, bukan hanya pada riwayat pengalaman kerja dan skill saja yang dilihat namun dari aktivitasnya di media sosial pun menjadi salah satu penilaian penting bagi recruiter untuk menimbang seorang kandidat layak atau tidak di panggil interview kerja.


Mr Bonifasius Wibisono melalui postingan LinkedIN nya membagikan sebuah cerita mengenai pengalaman HR antara dirinya dengan sahabat karibnya yang merupakan seorang HR. berikut tulisan lengkapnya:

$ads={1}

"Sebelum recruit orang gw selalu lihat aktivitas di LinkedIn-nya dulu"


Akhir pekan ini saya bertemu dengan sahabat saya di sebuah coffee shop yang terletak di pusat kota Surabaya. Kami berteman dari jaman program MT bank swasta warna biru yang satpamnya terkenal se-Indonesia. Sebut saja Stefi, sesuai permintaaan dari teman saya untuk namanya disamarkan. Saat ini Stefi bekerja sebagai talent recruiter di sebuah perusahaan FMCG. Kebetulan dia sedang berlibur ke Surabaya pekan ini, jadi saya menemaninya nongkrong sekaligus nostalgia.

_


"Makin sukses ya mbak karirnya", ujar saya.

"Biasa aja gw, masih hits lu kali,. Gw mah budak korporat hahaha", jawabnya sambil bercanda.


"Gimana jadi HR, enak cuy ?"

"Ada enaknya ada enggaknya, tapi banyak enaknya kok. Cuma minus mata gw nambah gara2 nyortir ribuan CV tiap hari."


"Emang cara lu milih kandidat gimana sih ?"

"Pertama gw selalu tertarik sama kandidat yang mencantumkan profile LinkedIn-nya. Even dia gak nyantumin, gw tetep cari secara manual dari nama yang tertera di CV."


"Apa yang mau lu kepoin emang ?"

"Jujurly gw gak baca background atau pengalamannya dulu. Sebelum recruit orang gw selalu lihat aktivitas di Linkedin-nya dulu. Kalau dia toxic, sering nulis hate comment, dan vibesnya negatif biasanya gak gw lanjutin."


"Seriusan cuy ?"

"Iya, recruiter itu pintu utama perusahaan ngumpulin talent. Kalau kandidatnya toxic ya gw harus mencegah supaya dia gak masukin vibes itu ke kantor gw."


"Oh... I see. Terus terus ? "

"Lu lihat sendiri deh, kadang masih banyak jobseeker sampai business owner yang ngirim komentar seenaknya di postingan orang. Gw sering nemuin hate comment dan postingan negatif, padahal di profilenya terpampang jelas nama perusahaannya. Bahkan gak jarang jobseeker yang profilenya pake ribbon open to work sering kirim hate comment. Kalau kelakuannya gitu mah recruiter juga ogah."


"Setelah itu apa yang lu lakuin ?"

"Kalau dia lolos screening ATS, gw pasti akan hubungi kandidatnya dulu. Kalau CV bagus, aktivitas LinkedIn aman, ya gw bakal proses CV-nya. Sebagus apapun CV-nya kalau aktivitas di LinkedIn negative vibes, tim gw cuma telpon basa-basi terus 2 minggu setelahnya kirim email gak lolos. Tapi tetap berdasarkan keputusan / rekomendasi atasan gw dulu ya.”


Tidak terasa waktu semakin sore dan kopi kami sudah habis. Lalu kami memutuskan untuk pindah tempat ke salah satu pusat perbelanjaan sambil memilih resto untuk makan malam.


Inti dari cerita di atas adalah kita tetap harus bijak dan membawa diri di sosial media, terlebih di platform khusus profesional seperti LinkedIn. Perilaku mengirimkan hate comment tidak hanya merugikan orang lain saja tapi juga diri sendiri, terlebih untuk kehidupan dan karir. Di sosial media kita juga hidup berdampingan dengan orang lain, jadi kita tetap harus saling menghormati dan respect terhadap satu sama lain. Salam !

$ads={2}

---

Mulai saat ini lebih bijak dan berhati-hati menggunakan media sosial yah sob, terutama bagi kamu yang saat ini sedang mencari pekerjaan.


Semoga tulisan Mr. Wibisono mengenai 'Media Sosial Menjadi Aspek Penilaian HR Merekrut Kandidat' bermanfaat untuk para pencaker.


Oleh: Mr Bonifasius Wibisono

Editor: Hendra, S


(H/S)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama